Arif
Ergi Hayadi,
Nama
yg ku pilih 2 kali dari tiga kertas yang telah di sediakan kedua orangtuaku 10
tahun yang lalu. Kelahirannya pun sangat dinantikan. Pertama mendengar bahwa
ada keberadaannya di perut ibuku aku merasa gusar, ingin komplen dan protes.
Mengapa ? alasan klasik ini pasti di utarakan oleh semua kakak di dunia. Simple
“takut sayang orangtua terbagi” atau “takut ga di sayang lagi”. Alasan yang
memang tidak rasional. Jawabannya pun telah di persiapkan oleh semua orangtua
di dunia.
“Ayah
sama bunda ga tetep sayang kakak kok”, jawab mereka dengan yakin.
“Nanti
kakak lebih di sayang dari adek ya” ? ucapku lagi.
“Ga
boleh gitu dong, harus sama ga boleh ada yang lebih ga boleh ada yang kurang.
Kakak nanti ajak adek main ya ?” bujuk ibuku dengan lembut.
Walaupun
tidak terima aku mengangguk. Ketika itu aku masih duduk di bangku SD, tepatnya
kelas 4. Tak terlalu bisa mengerti pada saat itu, karena sudah terbiasa hidup
sebagai anak bungsu dan dicurahi perhatian lebih.
Sore
itu setelah pulang mengaji aku melakukan aktifitas seperti biasanya, bermain
dengan teman-teman sebayaku. Jadwal pulang pun sudah aku tetapkan sendiri yaitu
setengah 5 atau menunggu ibuku tersayang menjemput. Hujan lumayan deras ketika
ada nenek tua yang menjemputku memakai payung.
“pulang
yuk ? adek udah nunggu di rumah” senyum wanita tua itu.
“adek
? di rumah ?” aku langsung bergabung dalam payung besarnya
Sesampainya
di rumah aku mendengar tangisan bayi kecil mungil yang sedang dimandikan,
menandakan bahwa ia keberatan untuk di mandikan.
Hari-hari
terasa merepotkan setelah ia hadir, seringkali aku di bangunkan lebih awal
untuknya menjaganya. Waktu bermain bersama teman sebaya pun tersita. Sebagai
kakak katanya aku harus menjaga dan memberikan contoh yang baik.
Semakin
hari semakin gusar. Dia tumbuh menjadi anak yang manja, sering dibelikan mainan
laki-laki yang bagus dan akupun suka. Di karenakan aku cewek jadi aku tidak
dibelikan. walaupun dia sering kali meminjamkan mainannya tapi itu tak
mengurangi kegusaranku.
Ketika
aku duduk di bangku SMP, aku tinggal jauh dari orangtua dan tinggal bersama
nenekku. Hari-hari terasa kurang, aku merindukannya. Merindukan adik yang
sering kali membuat aku sedih, tertawa, kesal, menangis, bahagia dan gembira.
Perasaan itu baru terasa setelah kami terpisah jauh.
Sekarang,
10 tahun sudah berlalu. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tanggap.
Perbedaan sangat terasa sekarang. Ia menjadi anak yang perngertian, mau
berbagi, berjiwa sosial tinggi. Karena sekarang aku tinggal di asrama jadi aku
sering menelpon oaratua untuk mengobati rasa rindu. setiap menelpon ibu dia
selalu bertanya
“kakak
kapan pulang ? nanti kita main game ya ? udah dulu, assalamualaikum”
aku langsung teringat ketika bermain game. bila ada musuh yang mendekat dia langsung berteriak "jangan ganggu kakakku"
Aku
tersenyum dan meneteskan air mata. Aku di rindukannya dan sangat merindukannya :)
Dan
begitulah, apa yg sekarang telah disediakan, diberikan dan diadakn di dalam
hidup kita. Bersyukur, sabar dan ikhlas lah menerimanya. Kita tak pernah tau bagaimana
kedepannya. Bahkan untuk besok pun tidak ada 1 manusia pun yang bisa menjamin
bagaimana kehidupan kita. Boleh jadi apa yang kamu benci sekarang adalah hal
yang sangat kamu butuhkan di masa yang akan datang. Begitu juga sebaliknya,
jangan terlalu mengagungkan apa yang ada di genggaman dan sekitarmu sekarang. Itu
semua hanya pinjaman, sang Pemilik bisa ngambilnya sewaktu-waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar