Minggu, 09 Juni 2013

Sibling Rivalry

Arif Ergi Hayadi,
Nama yg ku pilih 2 kali dari tiga kertas yang telah di sediakan kedua orangtuaku 10 tahun yang lalu. Kelahirannya pun sangat dinantikan. Pertama mendengar bahwa ada keberadaannya di perut ibuku aku merasa gusar, ingin komplen dan protes. Mengapa ? alasan klasik ini pasti di utarakan oleh semua kakak di dunia. Simple “takut sayang orangtua terbagi” atau “takut ga di sayang lagi”. Alasan yang memang tidak rasional. Jawabannya pun telah di persiapkan oleh semua orangtua di dunia.
“Ayah sama bunda ga tetep sayang kakak kok”, jawab mereka dengan yakin.
“Nanti kakak lebih di sayang dari adek ya” ? ucapku lagi.
“Ga boleh gitu dong, harus sama ga boleh ada yang lebih ga boleh ada yang kurang. Kakak nanti ajak adek main ya ?” bujuk ibuku dengan lembut.
Walaupun tidak terima aku mengangguk. Ketika itu aku masih duduk di bangku SD, tepatnya kelas 4. Tak terlalu bisa mengerti pada saat itu, karena sudah terbiasa hidup sebagai anak bungsu dan dicurahi perhatian lebih.
Sore itu setelah pulang mengaji aku melakukan aktifitas seperti biasanya, bermain dengan teman-teman sebayaku. Jadwal pulang pun sudah aku tetapkan sendiri yaitu setengah 5 atau menunggu ibuku tersayang menjemput. Hujan lumayan deras ketika ada nenek tua yang menjemputku memakai payung.
“pulang yuk ? adek udah nunggu di rumah” senyum wanita tua itu.
“adek ? di rumah ?” aku langsung bergabung dalam payung besarnya
Sesampainya di rumah aku mendengar tangisan bayi kecil mungil yang sedang dimandikan, menandakan bahwa ia keberatan untuk di mandikan.
Hari-hari terasa merepotkan setelah ia hadir, seringkali aku di bangunkan lebih awal untuknya menjaganya. Waktu bermain bersama teman sebaya pun tersita. Sebagai kakak katanya aku harus menjaga dan memberikan contoh yang baik.
Semakin hari semakin gusar. Dia tumbuh menjadi anak yang manja, sering dibelikan mainan laki-laki yang bagus dan akupun suka. Di karenakan aku cewek jadi aku tidak dibelikan. walaupun dia sering kali meminjamkan mainannya tapi itu tak mengurangi kegusaranku.
Ketika aku duduk di bangku SMP, aku tinggal jauh dari orangtua dan tinggal bersama nenekku. Hari-hari terasa kurang, aku merindukannya. Merindukan adik yang sering kali membuat aku sedih, tertawa, kesal, menangis, bahagia dan gembira. Perasaan itu baru terasa setelah kami terpisah jauh.
Sekarang, 10 tahun sudah berlalu. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tanggap. Perbedaan sangat terasa sekarang. Ia menjadi anak yang perngertian, mau berbagi, berjiwa sosial tinggi. Karena sekarang aku tinggal di asrama jadi aku sering menelpon oaratua untuk mengobati rasa rindu. setiap menelpon ibu dia selalu bertanya
“kakak kapan pulang ? nanti kita main game ya ? udah dulu, assalamualaikum”
aku langsung teringat ketika bermain game. bila ada musuh yang mendekat dia langsung berteriak "jangan ganggu kakakku"
Aku tersenyum dan meneteskan air mata. Aku di rindukannya dan sangat merindukannya :)


Dan begitulah, apa yg sekarang telah disediakan, diberikan dan diadakn di dalam hidup kita. Bersyukur, sabar dan ikhlas lah menerimanya. Kita tak pernah tau bagaimana kedepannya. Bahkan untuk besok pun tidak ada 1 manusia pun yang bisa menjamin bagaimana kehidupan kita. Boleh jadi apa yang kamu benci sekarang adalah hal yang sangat kamu butuhkan di masa yang akan datang. Begitu juga sebaliknya, jangan terlalu mengagungkan apa yang ada di genggaman dan sekitarmu sekarang. Itu semua hanya pinjaman, sang Pemilik bisa ngambilnya sewaktu-waktu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar